Selasa, 20 Mei 2008

Makin sulitnya mendirikan bangunan di daerah kami....
Kami tinggal di daerah yang tanahnya luas, lapang dan subur. Warga kota Palembang mesti bersyukur dengan keadaan ini. Dulu, ketika kakek-kakek kami masih hidup, kami tidak susah untuk mendirikan bangunan seperti kandang ayam atau kambing, pos ronda, jamban, jembatan kayu penghubung antar RT atau sekedar tempat duduk bagi anak-anak. Bukannya malas, tapi saat ini sudah dipastikan tanah-tanah yang dahulunya murni milik kami, kini telah dikuasai oleh para juragan-juragan tanah non pribumi, paling banyak orang Tionghoa dan Arab.

Kami, anak bangsa yang baru saja melek, dipaksa untuk melihat dan merasakan betapa sakitnya tinggal di negeri sendiri seakan di negeri orang. Namun kami masih bisa bersabar, pepatah yang berbunyi "hujan batu di negeri sendiri jauh lebih baik daripada hujan emas di negeri orang" telah menjadikan batin kami kuat melawan semua yang ada. Kasihan mereka, Mereka kini tidak bisa lagi bermain rumah-rumahan seperti dulu, tanahnya kini dikelilingi tembok batako menjulang tinggi yang diatasnya terbentang kawat tajam. Sedih memang, Namun tidak ada daya untuk melawan kecuali bertawakal kepada-Nya. Dari segi finansial, kami benar-benar ibarat orang lumpuh yang buta pula, jangankan mengatasi mencegahnya pun merupakan hal yang mustahil bagi kami.

Penguasaan pengusaha Tionghoa atas tanah warisan negeri ini terus-menerus berkelanjutan tanpa henti. Contohnya saja, daerah rumah saya, hampir 2/3 tanah yang diatasnya dihuni oleh ratusan kepala keluarga merupakan tanah orang-orang Tionghoa dan Arab. Lalu mana bagian kami sebagai pewaris dan sekaligus rakyat di negeri ini, kesusahan telah berfotosintesis dan kami pun harus segera menyadari bahwa kami hanyalah penumpang di negeri sendiri yang sewaktu-waktu akan terusir.

Ini baru permulaan, lalu bagaimana bila masalah yang seakan dibiarkan pemerintah ini tumbuh dan berlanjut hingga 20 tahun, 80 tahun atau 1 abad kemudian, saya rasa penderitaan rakyat Palestina akan dirasakan juga oleh rakyat bangsa ini. Apakah tidak malu kalian bila kondisi ini benar-benar terjadi? apa yang akan katakan kepada anak cucu kita yang akan terlahir di negeri pengungsian? apa yang anda jawab bila anda dihujat dengan pertanyaan seperti ini? "Anda dari mana? bukannya anda memiliki wilayah, pemerintahan dan negara? lantas kenapa anda semua tinggal di tempat kumuh kami?" Kalau kebetulan saya yang dihujat dengan pertanyaan tersebut, bukan masalah bagi saya. Namun masalahnya, bagaimana bila itu anda?

Cegah kondisi ini dari sekarang sobat.....!!

Author : Andre Gunawan, (Pemuda Miskin di negeri ini)

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda